Kamis, 06 Desember 2012

menuju baduy dalam

Hari Sabtu, 6 Oktober 2012 setelah melakukan aktivitas rutin yaitu bersih-bersih rumah, ane bingung saat itu "mau ngapain ya ?' dengan mencari informasi dari mbah google, ane langsung berangkat menuju Banten. ane ga perlu ceritakan ngapain aja ane dibanten.
    Hari minggu, 7 Oktober 2012 suasana langit begitu cerah, sampe-sampe awan pun tak terlihat.. ada sich dikit-dikit. tepat pukul 09.15 ane liat jam mulai melangkahkan kaki dari terminal Ciboleger. beberapa menit saja ane sudah disuguhkan dengan keunikan kampung yang bernama Kp. Kaduketug, kampung ini mempunyai keunikan dimana rumahnya masih 100% bernuansa tradisional dengan dibubuhi unsur seni yang unik. ini adalah lumbung padi milik mereka..

Pada pukul 09.45 kami mampir ke salah satu rumah penduduk yang bernaman Aki Hasan. didepan rumahnya terlihat nenek sedang membuat benang dari kapas, dengan terampilnya nenek itu membuat benang yang akan dipergunakan nantinya untuk membuat kain ataupun benang jahit. setelah kami berbincang-bincang dirumah Aki Hasan kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan. tanjakan demi tanjakan kami tiba di kampung marenggo pada pukul 10.20, kami istirahat disalah satu rumah penduduk dan kami sisuguhi air dimana air tersebut adalah air dari mata air pegunungan. ane minum air tersebut seketika itu ane terkejut karena air tersebut selain rasanya enak tapi juga dingin-dingin sejuk. berbeda dengan air dingin yang kita ambil dari lemari es, dingin air ini tidak terlalu dingin namun sejuk di tenggorokan. air ini berhasil menghapus kelelahan dalam melewati berbagai tanjakan dan turunan.

 ini adalah salah satu rumah yang kami singgahi dimana ane merasakan air yang bisa menyejukan tenggorokan. dengan terhapusnya rasa lelah, kami melanjutkan perjalanan menuju kampung berikutnya yang bernama kampung Gajeboh, tepat pukul 10.30 kami tiba di kampung Gajeboh, tanpa istirahat kami melanjutkan perjalanan menuju kampung berikutnya. saat diperjalanan kami mendengar suara yang mirip-mirip bambu yang dipukul-pukul, ane coba mencari sumber bunyi tersebut berasal, rupanya bunyi tersebut adalah alunan musik angklung, musik angklung ini sedang mengiringi upacara tanam padi. jadi rupanya penduduk disini ketika tiba waktunya untuk menanam padi, tanam padi diadakan upacara ritual dengan diiringi musik angklung yang dimainkan oleh penduduk itu sendiri. saat itu juga kami melanjutkan perjalanan sambil bergoyang dengan diiringi musik angklung tersebut, rasa lelah dikit demi sedikit menghilang dihempas oleh iringan musik angklung mereka. tak lama kemudian kami tiba di kampung lebak bungur, kami menumpang istirahat disalah satu rumah penduduk, dimana rumah tersebut menjual hasil seni berupa kain buatan asli mereka sendiri. ada baju, syal, celana dan sarung. ini adalah benar-benar asli buatan mereka tanpa ada keterlibatan unsur modern, semua dikerjakan dengan menggunakan cara dan bahan tradisional. disaat itu juga kami terheran-heran karena melihat ada tukang cingcau di kampung ini, setelah kami tanya dia adalah kang Aas yang menjual cingcau nya di kampung-kampung pedalaman ini. dia berjalan dengan menggotong cingcau dagangannya dari terminal ciboleger, dimana terminal itu adalah terminal pertama kali kita mulai berjalan. bayangkan saja, kami saja yang berjalan cuma membawa kantong kecil saja sudah gempor dibikinnya, apalagi Kang Aas ini yang membawa cingcau dagangannya. kemudian kami melanjutkan perjalanan, perjalanan kali ini kami melewati banyak perkebunan dengan disamping kiri terdapat jurang yang dibawahnya adalah sungai,kalo terjatuh bisa lumayan juga. tak lama kemudian ada jembatan menyambut perjalanan kita, yang rupanya jembatan 

ini bernama jembatan Tamayang yang menjembatani sungai ciujung dan ini juga merupakan pemisah antara penduduk baduy luar dan baduy dalam. kami lewati jembatan ini sambil menikmati bahwa jembatan ini dibuat dengan menggunakan tangan penduduk sini tanpa dibantu dengan bantuan alat-alat berat. jembatan ini terlihat unik karena kekuatan jembatan ini bukan dari bawah jembatan dengan menopang dasar sungai tetapi berasal dari atas jembatan ini, disusun sedemikian rupa dan diikat dengan tali ijuk yang berwarna hitam. sungguh sebuah hasil karya yang mengagumkan. setelah melewati jembatan ini, berarti menandakan kampung Cibeo dimana penduduk baduy dalam tinggal tidak jauh lagi. pada pukul 1.30 kami menemukan sungai, dimana airnya begitu jernih sampe ikan-ikan yang hidup disungai tersebut dapat terlihat dengan jelas, perasaan letih kami terlupakan dengan melihat ikan-ikan yang berenang disungai itu, tanpa ragu-ragu, ane mengeluarkan tempat air yang kosong karena air ini sudah menemani rasa hausnya selama diperjalanan. ane isi ulang tempat air itu dengan air sungai yang jernih ini sambil diminum. setelah meminum air ini rasanya sama seperti air yang diminum pada saat istirahat disalah satu kampung yang kami lewati. tidak ada air yang sesejuk air dari sungai ini. sambil melanjutkan perjalanan kami minum air tersebut sampai akhirnya kami berjumpa dengan kumpulan rumah-rumah panggung kecil yang itu rupanya adalah lumbung-lumbung padi penduduk baduy dalam, tak lama kemudian rumah-rumah penduduk baduy dalam pun 
terlihat, ini menandakan kami telah sampai di kampung Cibeo dimana penduduk Baduy dalam tinggal. disini kami tidak boleh menggunakan alat apapun yang dibawa dari kota termasuk telepon dan kamera.sehingga kami tidak bisa mengabadikan moment penting berada dikampung cibeo ini. karena perut kami mulai bersuara, kami mengeluarkan bahan makanan yang tadinya mau kami masak sendiri, tetapi karena kita tidak boleh menggunakan alat dari kota, maka bahan makanan kami dimasakan oleh salah satu rumah penduduk baduy dalam ini. masakannya cukup enak karena makanan ini dimasak dengan menggunakan peralatan masak tradisional, bahkan gelas yang kami pergunakan juga tradisional yang terbuat dari bambu. Samong ! samong adalah gelas terbuat dari bambu. gelas dari bambu ini entah kenapa kopi yang kami minum memiliki rasa yang berbeda dari sebelumnya padahal kopinya sama, cuma karena gelas terbuat dari bambu, kopi yang biasa kami minum memiliki rasa yang khas. kami menikmati hidangan makan siang sambil berbincang-bincang dengan mereka, dengan dibubuhi guyonan gaya mereka. mereka adalah masyarakat yang ramah. bahkan menurut ane, mereka lebih ramah dalam menyambut tamu dari luar dibandingkan dengan orang-orang perkotaan yang sifatnya cuek bebek. mereka bisa disebut manusia super, kenapa ane bilang manusia super. karena kemampuan mereka diatas kemampuan kita sebagai orang kota. dalam memenuhi kebutuhan hidupnnya mereka harus mempunyai mental, fisik dan juga spritual yang kuat. bayangkan saja ! kayu satu pohon dia angkat dari hutan sampai rumahnya sendirian untuk dia jual kemudian. untuk mengambil gula aren mereka harus memanjat dengan satu batang bambu yang diberi lubang diantaranya, tanpa ada alas kaki mereka berjalan menelusuri hutan gunung untuk mencari bahan makanan, nenek-nenek berjalan dengan kayu bakar dipundaknya hanya untuk menyalakan kompor mereka, bahkan dalam rangka jalan-jalan, mereka jalan ke Jakarta dan ada juga yang sampe Bandung dengan berjalan kaki tanpa alas kaki dan konsisten tidak mau menggunakan kendaraan yang melintas. tidak mau menggunakan alas kaki dan tidak mau naik kendaraan yang melintas bukan karena mereka tidak punya uang, uang mereka miliki, bahkan klo dibandingkan, uang ane dan uang mereka juga lebih banyak mereka. tapi ini adalah karena nilai konsisten terhadap agama kepercayaan mereka yang mereka jaga dan betul-betul mereka hormati, tanpa mau melanggar walaupun tidak ada yang melihat dari suku mereka sendiri.mungkin bagi orang kota yang tidak mengerti akan mereka, orang baduy dalam adalah orang yang kampungan dan tidak ada apa-apanya. tetapi jika kita telah mengenal siapa mereka. mereka adalah orang super yang posisi kehidupanya jauh lebih enak mereka dibandingkan kita yang selalu dihadapi dengan asap polusi kendaraan, macet disana-sini, mencari makanan harus beli dengan harga yang lumayan, berkompetisi memperoleh karir dan jabatan dengan saling menjatuhkan satu sama lain bahkan pake nyogok, dukun dan segala macem, mau membangun rumah musti membeli tanah yang harganya selangit dan membangun rumah pun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. mereka orang baduy adalah orang kaya yang  jauh dari apa yang orang kota rasakan. mereka mandapatkan uang dari hasil hutan mereka sendiri, mereka membangun rumah dengan bahan baku dari hutan sekeliling mereka yang dibangun dengan gotong royong penduduk tersebut, kicau burung yang merupakan asli burung liar disekeliling mereka, suara gemercik sungai yang melintas kampung mereka, udara sejuk yang mengisi ruang kehidupan mereka, tanah yang subur sebagai lahan bercocok tanam, pohon-pohon yang melindungi mereka dari panas matahari, gemuruh angin meniup pepohonan yang menjadi musik penghibur mereka.

kita tidak patut bersombong dihadapan mereka, bahkan merekalah yang patut bersombong dihadapan kita. karena kasian dech loe ngisep asap knalpot mulu..


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.